Showing posts with label bahagia. Show all posts
Showing posts with label bahagia. Show all posts

Monday, November 9, 2015

Bahagiakanlah Orangtua Mu Niscaya Bahagia Menantimu

Semua orang pasti ingin hidup mulia. Untuk meraih impian tersebut banyak jalan menuju roma. Ada jalan salah, ada jalan yang benar. Ada yang ingin kaya cepat mendatangi dukun. Ada yang pangkatnya naik dengan menyogok. Ada yang ingin masuk surga tapi melakukan ibadah yang nyeleneh. Jalan ini bukan saja tidak benar tapi juga mengundang murka Allah.

Rasulullah saw. mengajarkan kita jalan mudah untuk meraih kesuksesan dunia-akhirat yang kita impikan. Apa itu? Dengan berbakti kepada kedua orang tua. Beliau sampai menegaskan bahwa keridhaan Allah terletak pada keridhaan orang tua dan kemarahan Allah terletak pada kemarahan orang tua.

Di zaman Rasulullah saw. ada seorang pemuda dari Yaman yang bernama Uwais al-Qarni. Ia bukan pejabat, bukan orang penting pemerintahan, dan bukan pengusaha besar. Ia hanya berprofesi sebagai penggembala kambing yang miskin. Suatu ketika Rasulullah saw.memerintahkan Umar r.a. dan Ali ibn Abi Thalib r.a. agar meminta doa kepadanya. Padahal kedua sahabat ini adalah orang-orang yang dijamin surga.

"Bila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istigfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi," begitu pesan beliau kepada dua sahabat itu. Selidik punya selidik, ternyata Uwais al-Qarni adalah seorang hamba yang sangat berbakti kepada orangtuanya. Ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan tetap dirawat, dilayani, dan di sayangi hingga akhir hayatnya.

Begitu besar jasa orang tua, seorang anak tidak akan mampu membalas kebaikan orang tua meski seluruh kekayaan nya di berikan kepada mereka. Ibnu Umar pernah melihat lelaki menggendong ibunya dalam thawaf. "Apakah ini sudah melunasi jasanya (padaku) wahai Ibnu Umar?" tanyanya. Beliau menjawab, "Tidak, meski hanya satu jeritan kesakitan (saat persalinan)."

Alangkah bersyukurnya jika hingga detik ini kita masih merasakan kehadiran orang tua. Artinya, kita memiliki kesempatan berharga untuk meraih impian dunia akhiratlewat keridhaan nya. Kata Rasulullah saw., "Rugi, rugi, dan rugi." Ditanyakan, "Siapakah dia, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Dialah orang yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah satunya dalam keadaan sudah berusia lanjut dan renta, namun dia tidak berbakti. Maka dia tidak masuk surga."

Kewajiban anak hanya berbakti kepada mereka dengan memenuhi haknya dan melayani dengan baik. Meski orang tua telah meninggal, bakti anak tidak otomatis berhenti. Tapi tetap mendoakannya dengan kebaikan. Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. untuk bertanya, "Bagaimana cara berbuat baik kepada kedua orang tua yang sudah meninggal dunia?" Seketika pertanyaan itu di jawab oleh Rasulullah saw., "Dengan berdoan untuk mereka, menunaikan janji mereka, serta menyambung silaturahmi yang tidak bisa disambung kecuali dengan mereka berdua, serta memuliakan teman mereka."

Sukses itu mudah. Hidup mulia itu mudah. Bahagia itu mudah. Caranya juga mudah, berbaktilah kepada kedua orang tua, sayangi, doakan, penuhi kebutuhannya, layani dengan sepenuh jiwa. Jika kita mampu berbuat demikian, Rasulullah saw. menjamin impian-impian hidup pasti akan hadir di depan mata. [Reportaseterkini]

Sumber  : 99 Resep Hidup Rasulullah Oleh Abdillah F.Hasan

Thursday, November 5, 2015

Menikah dulu atau membahagiakan orang tua dulu ?

Pernah ketemu orang yang bimbang dengan pilihan antara membahagiakan orang tua dulu atau menikah dulu? , sehingga tak sedikit juga yang akhirnya menunda pernikahannya dengan dalih ingin membahagiakan orang tua terlebih dahulu, atau mungkin itu anda sendiri yang merasakannya? hehe.
Bagi anda yang jadi anak pertama, ditambah dengan memiliki banyak adik sementara orang tua sendiri memiliki penghasilan yang tidak mencukupi tentu ini menjadi masalah yang serius karena orang tua dan adik-adik menjadi. Dan yang lain adalah ketika seseorang yang punya impian seperti mau mengajak orang tua umroh dulu sebelum menikah, membelikan orang tua barang mahal dulu sebelum menikah serta alasan-alasan lainnya.

Sebelum menjawab pertanyaan “menikah dulu atau membahagiakan orang tua dulu”, ada satu hal yang harus kita perhatikan dan ingat yaitu tentang membahagiakan orang tua. Ada paradigma yang mesti diluruskan tentang hal ini apalagi ketika membuat pilihan menikah dulu atau membahagiakan orang tua?, seolah-seolah setelah menikah kita tidak bisa lagi membahagiakan orang tua, seolah-olah pernikahan menjadi “pemisah” antara anak dan orang tua. Padahal berbakti kepada orang tua adalah kewajiban anak hingga akhir hayat, tidak ada alasan untuk tidak berbakti kepada orang tua walaupun sudah menikah.

Bagi laki-laki kewajiban berbakti kepada orang tua tetap diutamakan setelah menikah apalagi kepada ibunya. Karena salah satu tanggung jawab laki-laki adalah bertanggung jawab atas ibunya. Apalagi jika orang tua sudah renta dan tidak lagi bisa bekerja maka jadi kewajibannya untuk menjaga dan merawat orang tua. Sementara bagi wanita setelah menikah kewajiban utamanya yang awalnya harus patuh dan taat kepada orang tua berpindah kepada suami, jadi bagi wanita ketaatan kepada suami jauh lebih utama dibanding dengan ketaatan kepada orang tua. Nah, agar tetap bisa berbakti kepada orang tua setelah menikah, maka carilah suami yang shaleh dan taat serta memahami keutamaan dan kewajiban berbakti kepada orang tua.

Sementara bagi anda yang memiliki tanggungan seperti membantu orang tua, membiayai adik atau keluarga, tidak ada masalah tetap melanjutkan menikah, jadi sembari menikah tetap membantu orang tua tentu dengan catatan harus dibicarakan dengan pasangan dan andapun memiliki kemampuan. Namun jika belum mampu untuk menjalankan keduanya, maka menunda pernikahan untuk sementara demi prioritas membantu adik-adik dan orang tua bisa menjadi pilihan terbaik.
Sumber: Elmina