Tuesday, November 10, 2015

Istriku, Bantulah Aku Untuk Taat Kepada Ibuku Agar Kita Bersama-sama Menjadi Penghuni Surga

Seorang sahabat menuturkan kisah berikut;

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan balasan yang baik bagi suamiku. Setiap kali ia mengucapkan kata-kata yang bernada kesal pada ibunya yang telah lanjut usia, atau merasakan ada sikap kurang berkenan, atau ia merasa hubunganku dengan ibunya merenggang, ia berdiam diri, tidak bicara dan tidak pula berbuat sesuatu yang sekiranya melukai perasaanku atau berbuat durhaka. Ia mengajakku meninggalkan rumah, dan pergi ke pasar. Suamiku berkata, “Kita akan membeli hadiah untuk seorang wanita yang kau kenal dengan baik. Aku minta engkau memilihnya!” Aku mendesaknya untuk mengatakan siapa wanita itu, tetapi ia menolak dan menyerahkan yang sebanyak 5000 riyal dan memintaku untuk membeli perhiasan emas.

Ketika tiba di rumah aku bertanya kembali, siapa wanita yang dimaksud suamiku. Suamiku berkata, “Ibuku!” Aku merasa risih dan hanya terdiam, tetapi dalam hati aku berkata, “Selama uang itu milik suamiku, mengapa aku mesti tidak ingin berbuat baik, padahal aku tidak kehilangan apa-apa!” Aku duduk di hadapan ibu mertuaku dan kukatakan kepadanya, “Bu, ini ada bingkisan ala kadarnya dari kami untuk ibu, barangkali selama ini kami tidak sepenuhnya memperhatikan ibu atau kami telah berbuat khilaf kepada ibu.”

Ibu mertuaku berkata, “Aku tidak menginginkan apa-apa dari kalian. Selama kalian berdua baik saja, aku sudah merasa senang.”

Aku membukakan bingkisan dan ketika ia melihat isinya ibu mertuaku meneteskan airmata di pipinya. Aku bersimpuh, memeluk erat kedua kaki ibu mertuaku dan menciumnya. Aku menangis dan dalam tangisku aku merasa ia tidak berbeda dari ibu kandungku yang meninggal saat aku masih kecil. Keadaan kami di rumah berubah membaik berkat karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berkat sikap suamiku; keikhlasan dan kebaikannya.”

Bergaul dengan ibu membutuhkan kepiawaian, seni dan kecerdasan. Katakan kepada istri Anda, “Suamimu adalah jalan yang akan mengantarkanmu ke surga, dan ibuku adalah jalanku menggapai surga, maka taatlah pada suamimu agar masuk surga, dan bantulah aku untuk taat kepada ibuku agar kita bersama-sama menjadi penghuni surga…” Berilah pengertian kepada istri bahwa di sana banyak hal-hal yang terlihat sepele namun mempunyai makna yang besar bagi ibumu!”

Sebagai contoh, saat naik mobil, apa alasan Anda tidak mendudukan ibu di samping Anda di jok depan, tetapi Anda mendudukannya di belakang?! Tidakkah Anda menyadari, tindakan itu dapat menyinggung perasaan ibu? Tidakkah Anda menyadari, ibu adalah seorang wanita yang mempunyai rasa cemburu? Apakah selama ini Anda hanya tahu bahwa rasa cemburu itu hanya ada dalam kehidupan suami-istri semata? Bukankah sudah kami katakan, dalam pandangan Anda bisa jadi hal itu amat sepel, tetapi bagi ibu Anda, hal itu mempunyai makna yang besar.

Jika suatu waktu Anda membawakan bingkisan, maka jangan mengistimewakan istri dengan memberinya hadiah yang berharga, sedang ibu Anda diberi hadiah yang sama dengan hadiah yang diberikan pada pembantu. Beri kesempatan kepada ibu Anda untuk memilih bingkisan yang ia inginkan, atau paling tidak berikan bingkisan yang sama nilainya. Upayakan bersama dengan istri bahwa bingkisan itu diistimewakan untuk ibu. Anda akan membuktikan bahwa ibumu tidak tamak dengan bingkisan yang Anda berikan dan ia akan sangat memuji sikapmu itu! [Syahida.com]

Sumber: Musa bin Muhammad Hajjad az-Zahrani (Keramat Hidup: Orang Tua)


No comments:

Post a Comment